Oleh: Esti Nuringdyah

Desa Karangjambe, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga, sore itu tampak ramai. Puluhan perempuan muda berhamburan keluar pabrik, yang ditemboknya terlukis nama sebuah produk rokok terkenal “ Sampoerna Hijau “. Perusahaan rokok milik HM. Sampoerna yang berpindah tangan ke Philip Morris, sebuah perusahaan rokok ternama di Inggris, pertengahan tahun 2004 lalu.

Tapi jangan tergesa-gesa dulu menyimpulkan, pabrik di yang bertuliskan “ Sampoerna Hijau” ini, sebenarnya bernama PT. Mitra Produksi Sigaret (MPS). Pabrik milik PT Karya Tri Utama itu, ditargetkan memproduksi 12 juta batang rokok tiap minggu, untuk dikirim ke PT HM Sampoerna.

MPS adalah program kemitraan untuk memproduksi sigaret kretek tangan (SKT) unggulan Sampoerna, seperti Dji Sam Soe kretek, Dji Sam Soe Super Premium, Sampoerna Hijau dan Panamas Kuning.

Seorang perempuan muda, menarik perhatian saya. Dia keluar dari pabrik dengan senyum yang menarik, setengah berlari, Ia bergegas menuju warung kecil milik mertuanya, Yuli. Tangannya meraih jajaran toples berisi gula merah dan kelapa muda. Perlahan, Ia menuangkan isi toples ke dalam gelas, lantas meminumnya. Diantara toples-toples itu, terselip dua piring kecil berisi sawo. Buah lokal bekulit coklat dan berasa manis ini, ditata di atas lapak kecil.

Dagangan sawo ini, rupanya milik Swesti. Setiap hari Ia menitipkan sawo di warung mertuanya, sebelum memulai bekerja di Pabrik.

Farah mau digawa neng poli, tangane pada mlendung kena gunting”, Ia bercerita dalam bahasa Jawa pada Ibu mertuanya tentang Fara, kawannya di bagian gunting. Tangan Farah luka, bentol bernanah, terkena gunting yang digunakan untuk merapikan gulungan rokok.

“ Alah-alah, melas temen. Mending digawa neng rumah sakit baen. Neng poli mbok langka doktere, langka perawate (Kasihan sekali, lebih baik dibawa ke rumah sakit saja, di poli kan tidak ada dokter dan tidak ada perawatnya) ” begitu Yuli menjawab.

Swesti Septiani, biasa dipanggil Swesti.Banyak juga kawannya yang memanggil Ia dengan sebutan Imung. Seperti tidak ada keterkaitan dengan namanya, tapi begitulah kawan di desa Karangjambe memanggilnya. Saat ditanya apakah Ia terganggu dengan panggilan Imung, Ia menjawab dengan tertawa “ Iya nggaklah, masa saya marah Mba…emang saya dipanggil Imung juga sedari kecil. Memang sih kayaknya kok jauh banget sama Swesti Septiani, tapi ya gak apa-apa”. Usia Swesti masih muda, berkisar 26 tahun. Swesti memiliki seorang anak perempuan, berusia 12 bulan.

Ia bekerja di bagian gunting. Setiap hari merapikan lintingan-lintingan rokok. Swesti diharuskan mampu memproduksi gulungan rokok rapi sejumlah 2500 batang setiap hari. PT Mitra Produksi Sigaret ini, memproduksi sigaret tangan, maka jangan membayangkan Swesti menggunting dengan alat canggih, sekali gunting bisa jadi puluhan batang. Swesti menggunting dengan gunting manual, tiap batangnya, sekedar untuk menjaga mutu dan kenikmatan pecandu rokok, konsumen Sampoerna yang jumlahnya ribuan.

Sedikitpun tidak terpikirkan oleh Swesti, ribuan pecandu rokok Sampoerna berarti pundi-pundi keuntungan PT Mitra Produksi Sigaret bertambah, “ Upah saya dari MPS lumayan saja mbak, kekurangannya ya ditutup sama jualan sawo. Suami saya juga kan masih kuat kerja, walaupun cuma jadi kuli bangunan. Kadang kerja, kadang enggak, tapi ya lumayan. Cukup kalau dicukupkan”.

Setiap hari Swesti dibayar Rp. 9500, paling tidak dalam seminggu, Ia mengantungi Rp. 57,000, sebulannya Ia mendapat penghasilan Rp 228,000. Bayaran yang jauh dibawah Upah Minimum Kabupaten (UMK). Kabupaten Purbalingga menentukan UMK sebesar Rp. 499,500 setiap bulan. PT.MPS hanya membayar karyawannya sebesar 45% dari batas minimum yang seharusnya dibayarkan.

“Tapi aku dibayar segitu karena aku masih lanjutan mba. Kalau yang sudah terampil dibayar Rp, 11.000 per hari. Kalau yang pemula dibayar Rp, 8500 ” begitu ujar Swesti. Lantas Ia melanjutkan, “ Besar bayarannya, kerjaannya juga tambah banyak mba. Kalau yang terampil, sehari targetnya 4000 batang, yang pemula 1600 batang. Kalau aku kan dapatnya tahap lanjutan, sehari targetnya 2500 batang ”.

Bagi orang seperti Swesti, apapun akan dilakukan demi perbaikan kesejahteraan generasi penerusnya “ Aku pengin anakku bisa sekolah tinggi. Bisa kuliah. Tapi upahku kecil, suamiku juga kadang kerja kadang enggak. Jadi aku harus pinter-pinter. Jualan sawo”. Saat Ia menyampaikan hal ini, gambaran kesedihan tak nampak. Swesti hanya terlihat sedikit kelelahan, rambutnya kusut. Belum Ia berganti baju, Ia langsung mengangkat anaknya dari pangkuan Karto, ayah kandungnya, “ Nanti lagi ya, aku mau mandikan anakku dulu”. Pukul setengah enam sore, matahari mulai tampak kelelahan dan perlahan melingsir ke barat, Swesti memulai peran barunya; menjadi ibu rumah tangga, melayani anak, suami dan kedua orang tuanya yang sudah renta.

Pagi pukul 03.00Bbwi, manakala kabut masih tebal diatas atap rumah-rumah, ayah, ibu dan suami Swesti berkumpul di dapur. Tentu saja dapurnya dingin, sebab tak bertembok, hanya dibentengi geribik dan beralaskan tanah. Mereka bersama-sama membungkus buah sawo dengan kantung plastic,”biasanya satu plastic berisi sepuluh buah” ujar Karto. Tiap plastic akan dititipkan ke warung-warung di sekitar pabrik, masih di desa Karangjambe, “ biasanya bukan hanya di daerah pabrik Mba, kalau suamiku libur, bisa sampai ke Grecol, Kalimanah atau Karang petir”. Swesti mengajari arti kerjasama membangun keluarga sejahtera. Swesti tak berkewajiban berkumpul di dapur bersama suami dan orang tuanya tiap pagi hari, Ia hanya berkewajiban menghantar dan bekerja di pabrik dalam setiap harinya. Pembagian kerja dalam rumah tangga ternyata penting, aku menggumam dalam hati.

“ Kalau boleh tahu, berapa sih pengeluaran Mba Swesti sekeluarga dalam sebulan? Dan bagaimana Mba Swesti berupaya untuk memenuhi kebutuhan itu?” saya bertanya, setengah tidak enak hati.

“ Sebulan, berapa yah. Aku gak pernah ngitung sih Mba. Kira-kira seminggu ya 80.000 ribu rupiah, untuk kebutuhan dapur buat lima orang. Tapi itu belum termasuk susu buat anak saya, juga listrik,tabungan, pakaian. Jadi sebulan paling tidak 320.000 ribu rupiah“

“ Tidak pakai ASI tho’ Mba”, saya bertanya agak heran. Sebab biasanya orang desa lebih memilih ASI daripada susu lanjutan.

“ Gak boleh. Di pabrik gak boleh bawa anak. Karena musti bekerja ya, akhirnya anakku dikasih susu sambung saja”.

Saya lanjut bertanya “ Apa tidak bisa menyusui saat istirahat?”.

Swesti menjawab sambil tertawa, “ Istirahat apa?, kalau siang memang ada istirahat makan. Tapi paling lima menit. Kadang ada yang makan sambil berdiri. Kalau sudah makan selesai ya kerja lagi”. Saya sama sekali tidak bisa memahami makna tawa Swesti. Seolah buruh sudah bukan lagi manusia. Saya merasa, Swesti berpikir bahwa buruh tak punya hak untuk istirahat, hak seolah hanya menjadi lelucon. Hati saya miris. Saya mengakhiri perjumpaan dan berjanji untuk datang lagi esok hari.

****

Perjumpaan di mulai di saat yang sama, saat matahari sudah mulai kelelahan dan perlahan melingsir ke barat. Seperti hari kemarin, saya menunggu di warung Yuli, mertua Swesti. Saya menunggu Swesti keluar pabrik.

“ Gimana Mba, hari ini berangkat kerja jam berapa?”. Saya membuka percakapan, begitu dia duduk di lapak warung.

“Biasa Mba, masuk kerja jam enam tadi pagi, natain gilingan, terus mulai nggunting. Habis nggunting aku kirim ke packing. Nah orang packing ngirim ke pasokan. Tadi targetnya nyampe kok Mba, 2500 linting. Jam segini baru selesai”

Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore, saat Swesti keluar dari pabrik MPS. Berarti hari ini dia bekerja selama sebelas setengah jam.

“Hari minggu libur tidak Mba”, saya bertanya, penasaran.

“Minggu libur. Tapi kalau hari libur besar tidak libur. Dihitungnya lembur. Tapi bayarannya sama. Kalau saya ya dapatnya 9500 ribu”.

Jika dihitung, Swesti bekerja kurang lebih 60 jam dalam seminggu. Lama Swesti bekerja melanggar ketentuan yang dicantumkan dalam Undang-Undang No 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Pada Pasal 77 tentang waktu kerja menyebutkan;

“ (1) Setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja.

(2) Waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi:

a. 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1(satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau

b. 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

(3) Ketentuan waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku bagi sector usaha atau pekerjaan tertentu.”

Seharusnya, PT MPS membayar buruhnya upah lembur setiap hari. Sebab mereka bekerja di luar jam yang sudah ditentukan oleh pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Saya jadi teringat tawa Swesti makala saya mengajukan pertanyaan tentang jam istirahat. Hanya lima menit setelah beberapa jam bekerja secara terus-menerus.

Bagaimanapun juga buruh berhak untuk istirahat. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pasal 79 (2) huruf a, yang menyebutkan “ Istirahat antara jam kerja, sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 (empat) jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja”. Rupanya pelanggaran yang dilakukan PT.MPS terhadap buruhnya sangat kentara.

“ Apa di PT. MPS ada serikat buruh?” tanya saya

” Ada Mba, SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia)” jawab Swesti singkat.

Menurut keterangan dari Supono, wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat Purbalingga merangkap ketua SPSI purbalingga, serikat buruh yang ada di Purbalingga hanya SPSI. Jadi semua buruh di Purbalingga tergabung dalam SPSI.

“ Apa Mba Swesti senang dengan kondisi kerja yang sekarang?Apa kawan-kawan Mba Swesti tak ada yang protes?” saya bertanya, penuh ingin tahu.

“ Tidak ada. Semua senang Mba. Memang dulu ada demo. Minta kenaikan upah. Memang naik juga akhirnya, dari 6500 jadi 8500 untuk pemula. Dulu saya gak bisa ikut demo. Soalnya, waktu itu saya lagi sakit. Kena tetanus”.

“ Apa sakit tetanus itu ada hubungannya sama tangan Mba Swesti yang sering kena gunting?. Oh ya, apa Mba Swesti mendapat jaminan keselamatan kerja, atau asuransi kesehatan?” Tanya saya.

“ Gak ada. Tapi di pabrik ada poli. Kalau sakit bisa ke poli. Waktu aku sakit, aku gak bisa ke poli. Soalnya sakitku di rumah. Poli itu cuma khusus buat yang sakit di pabrik. Di sana ada obat-obatan. Dokter atau perawat gak ada. Kalau teman saya pusing pas kerja, bisa istirahat di poli. Selain untuk pengobatan di pabrik, poli juga buat ngeliat buruh pabrik yang menstruasi.”

Saya heran, serikat buruh di pabrik ini diam. Sekiranya saya ambil kesimpulan, serikat buruh yang ada di PT. MPS bukanlah serikat buruh sejati. Sebab serikat buruh sejati dibentuk oleh buruh dan memperjuangkan nasib buruh, bukan diam. Sudah saatnya buruh PT.MPS mengorganisir diri, menyongsong masa depan yang lebih baik. Siapa lagi yang akan peduli pada nasib kita jika bukan diri kita sendiri, jadi, ayo berserikat.