Note : Surat ini ditulis Haryo Setyadi, tak lama setelah menginjakkan kaki di Russia. Haryo Setiadi, sampai kini adalah satu dari sekian orang yang saya hormati.

=======================================

St. Petersburg, November 2004

Sejahtera,

Sudah hampir dua bulan ini, saya berada di Saint Petersburg, kota di sisi barat laut bentang wilayah Rusia. Di atas peta, ke Helsinki atau Stockholm jauh lebih dekat daripada ke Moscow. Di St. Petersburg, musim gugur telah sampai ujung. Cuaca sungguh tidak bersahabat; angin dan hujan tidak tentu. Suhu di wilayah ini acap berubah dengan cepat. Kerap kali dingin menyelusup hingga tulang.

Saya sampai di tanah Rusia pada pertengahan September 2004. Moscow menyambut saya dengan musim gugur yang ramah, setelah penerbangan panjang yang membosankan: Jakarta, Bangkok, Dubai dan kemudian Moscow Domodedovo.

Moscow selalu menyentak, membangunkan siapapun yang lelap dalam pesawat. Sebab setiap kali menyentuh landasan, tepuk tangan panjang warga Rusia yang pulang bepergian bergema seantero kabin. Sebuah tradisi patriotik? Saya tidak tahu. Agak mengherankan memang, karena gemuruh globalisme-neo liberalisme pada banyak tempat telah menyurutkan nasionalisme.

Saya belum sempat mencari jawab atas soal itu –nasiolisme-patriotisme— yang memang ditolak kawan-kawan Trotskiest. Saya terlalu lelah. Sebab hari itu juga, seturun dari pesawat, saya bergegas ke pusat kota Moscow. Memesan tiket kereta ekspres ke St. Petersburg. Petugas dari kementrian pendidikan Rusia maupun staff KBRI di Moscow sangatlah membantu. Di stasiun kereta yang entah apa namanya, tatapan Lenin dalam sculpture separuh badan yang tegak di tengah hall seperti mengatakan, «welcome to russia!». Terdengar sedih. Saya tidak tahu mengapa? Dikemudian hari baru saya tahu bahwa perasaan itu sekedar romantisme mantan aktivis gerakan mahasiswa.

Kereta itu –dengan segenap infrastrukturnya yang didukung daya listrik-nuklir— warisan Soviet. Kereta besar yang nyaman dengan suspensi yang baik. Hampir tidak terdengar bunyi gemuruh. Tidak sementereng di barat memang. Saya memesan kereta dengan kompartemen. Terdapat empat tempat tidur dalam satu kompartemen. Seperti kabin kelas satu di kapal laut ekspress antarpulau di negeri kita, Indonesia.

Malam terlalu gelap. Saya terlelap dibawah selimut wol. Sembilan jam Moscow – St. Petersburg, kereta menembus hutan-hutan pinus tanpa henti. Bagi perkonomian Negara Federasi Rusia, saya kira, sektor kehutanan memberikan sumbangan yang signifikan dengan besaran output sebagaimana data yang ditunjukkan badan statistik pemerintah. Berikut saya kutipkan data OUTPUT OF MAIN INDUSTRIAL PRODUCTS IN PHYSICAL TERMS sektor kehutanan yang dikeluarkan badan statistik pemerintah Rusia.

Output

2000

2001

Place in the world production output in 2000

Timber (commercial), mln. dense cu.m

80.6

77.7

4

Sawn wood (including sleepers), mln. cu.m

20.6

17.6

5

Pulp, thou. tons

4960

5272

7

Paper and cardboard, thou. tons

5312

5596

13

St. Petersburg adalah kota terbesar kedua di Rusia setelah Moscow. Kota yang memiliki arti sangat penting bagi sejarah bangsa dan negara Rusia.1 Dialah ibu kota kekaisaran Rusia selama dua abad (1712 – 1918) juga rahim bagi revolusi sosialis.

Sebelum sampai di sini, saya telah mendengar gunjingan bahwa St. Petersburg merupakan salah satu kota yang paling indah di Eropa, dari barat hingga ke timur. Terhampar di delta sungai Neva dengan teluk Finland yang melengkung di tepian laut Baltik sebagai halamannya, St. Petersburg telah lama menjadi gerbang Rusia ke barat.

Tak kunjung henti saya mengagumi istana-istana, gereja juga mesjid, gedung-gedung institusi pendidikan dengan arsitektur baroque-rococo berderet sepanjang sungai Neva hingga sekujur kota. Jalan-jalan dengan sedikit kelokan, taman-taman dan ruang publik yang luas, kanal-kanal yang membelah kota dan saling terhubung. Kampus saya yang tua, bekas gedung bank sentral jaman kekaisaran, berada tepat di tengah kota di antara kerumunan warisan feodal itu, tidak jauh dari podium tempat Plekhanov menyampaikan pidato pertamanya di sebuah taman yang indah bersisian dengan Kazan Zabor –katedral Orthodox yang megah. Pantaslah orang-orang barat menjuluki kota ini sebagai “kota seribu istana, sejuta bidadari”. Saya memang tidak tahu persis kebenaran klaim ini. Yang saya tahu, kota ini memang lebih indah dari Depok, kota kecil di selatan Jakarta yang selalu menjadi kecintaan saya, oleh sebab bidadari saya ada di situ.

Era pemerintahan Tsar Peter the Great2 dan kemudian Tsarina Catherine the Great3 disebut-sebut sebagai golden period imperium Rusia. Artefak golden period, yang saya lihat, menunjukkan betapa Rusia merupakan kekuatan yang menggetarkan bagi Eropa masa itu. Pun sekarang, saya kira, Rusia adalah negara besar yang sangat tidak mungkin diabaikan begitu saja dalam geopolitik-ekonomi Eropa juga dunia.

Sangatlah mencengangkan, bagi saya, melihat infrastruktur warisan lebih dari dua abad yang lalu sekarang masih berfungsi baik melayani kepentingan publik. Sejauh penilaian saya, kesadaran bangsa Rusia akan sejarah sungguh baik adanya. Monumen dan prasasti, yang dapat ditemui hampir di tiap jengkal kota, setia menyampaikan kabar masa lalu kepada generasi baru. Barangkali, rakyat Rusia sadar betul akan ongkos yang dikeluarkan nenek moyang mereka untuk membangun kota itu selama hampir sepuluh tahun (1703 – 1712). Sebuah kota yang dibangun di atas ribuan tulang belulang manusia yang mati karena kelaparan dan kedinginan.

Bisa jadi penilaian saya berlebihan, sebab saya memang kampungan. Belum-belum saya sudah merindu-rindu ketiak Ibu saya, juga brownies buatan tangan Luvrina, belahan hati saya, juga mertua saya yang suka membelikan susu buat kami seraya berkata: “minum ya.. supaya bibitnya bagus! ”. Dan benar sekali mertua saya yang pegawai senior dinas kesehatan itu. Syahdan, bertambah buncitlah perut saya.

Adalah benar bahwa revolusi sosialis di Rusia –yang di Indonesia terdengar begitu menakutkan— telah meruntuhkan monarkhi keluarga Romanov. Istana mereka tidak turut hancur, harta benda warisan feodal terpelihara, patung-patung kaum bangsawan masih tegak. Kebanyakan daripadanya sekarang ini dimanfaatkan untuk kepentingan publik: museum, institusi pendidikan, dan lain-lain.

Saya menjadi begitu masygul bila teringat segala perkara yang berlangsung menjelang kejatuhan kekuasaan despotik Jenderal Soeharto. Sejak semula, saya memandang penting bahwa tragedi 13-14 Mei 1998 yang menjijikkan itu mesti diusut. Siapapun yang bertanggungjawab atas peristiwa tersebut, juga yang mengemban tanggungjawab keamanan Jakarta beserta seluruh warganya pada saat itu harus dihukum!

Pun secara politik, demi generasi sekarang dan masa datang, hemat saya, langkah tersebut sangatlah penting untuk menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak pernah mentolerir kebiadaban semacam itu. Karena kita bangsa yang beradab. Kita tentu tidak ingin terisolir dari pergaulan internasional dan terus didera minderwardigheit yang dalam.

Salah satu warisan penting kekaisaran Rusia di St. Petersburg adalah pelabuhan dengan kanal-kanalnya sebagai arteri di daratan. Saya menduga, pembangunan infrastruktur ini sangat terencana. Beruntung sekali, Rusia memiliki sungai Neva yang membelah St. Petersburg, bermuara di Teluk Finlandia berhulu di Danau Ladoga di sisi timur laut wilayah itu. Hingga sekarang, pelabuhan St. Petersburg di delta Neva itu masih terpelihara baik, lengkap dengan berbagai simbol kekuasaan feodalnya yang tidak lagi berjiwa. Pelabuhan yang dahulu lebih berfungsi sebagai pangkalan armada laut kekaisaran, dewasa ini merupakan salah satu pelabuhan niaga dan pariwisata yang paling aktif di Rusia.

Di dermaga yang tidak jauh dari pusat kota, kita bisa menyaksikan aktivitas bongkar muat barang sepanjang musim semi hingga musim gugur. Jembatan Peter The Great yang melintang di atas sungai Neva di tengah kota dibuka pada jam-jam tertentu agar kapal-kapal dapat masuk lebih ke dalam. Kata seorang teman: “Di dermaga itu setiap musim panas berlabuh kapal-kapal pesiar yang memuntahkan sekitar 300-an pekerja kapal asal Indonesia. Mereka jalan-jalan ke kota menikmati warisan sejarah bangsa Rusia.”

Saya berteman dengan seorang professor ahli Indonesia yang tinggal di tepi sungai Neva. Kepadanya, saya iri hati. Saya membayangkan sungai Ciliwung jaman VOC dan jaman kolonial. Bukankah dulu, sungai Ciliwung juga merupakan jalur transportasi niaga?

Berdiri ditepi sungai Neva menjelang matahari terbenam selalu menyenangkan, tetapi juga kerap menyebalkan melihat pasangan kekasih bermesra-mesraan. Seperti sembilu menyayat hati: aih.. saya merindu Depok!

Salam,

Haryo Setiadi

* Gambar di atas adalah istana musim dingin para Tsar dinasti Romanov. Maaf, kantong mahasiswa tidak cukup untuk beli kamera digital, jadi gambar di atas juga saya kopikan dari Encarta Encyclopedia. Terletak di tepi sungai Neva yang meliputi kompleks yang luas. Sekarang merupakan salah satu museum seni dengan koleksi paling besar di dunia. Secara keseluruhan istana ini diselesaikan pada tahun 1762. Di sini pula pada suatu Oktober 1917 di sebuah ruang makan dilakukan penangkapan atas menteri-menteri Tsar Nicholas II menjelang runtuhnya monarkhi Romanov. Kalau ada kesempatan, saya akan ceritakan hal ini tersendiri.

* Di atas, saya kopikan gambar dari Encarta Encyclopedia dari komputer yang dibelikan istri saya. Dibelakang deretan gedung di tepi Sungai Neva tampak kubah Isaakiskij Zabor (Saint Isaac’s Cathedral), sebuah gereja Orthodox yang dibangun tahun 1800-an atas perintah Tsar Alexander I. Arsiteknya August Monferrand, orang Perancis, penganut katholik yang saleh. Keseluruhan bangunan dibuat dengan tangan. Material didominasi oleh besi, kayu, marmer. Kubahnya berlapis emas juga di bagian dalam menyelimuti relief, ragam hias dan lukisan yang menggambarkan kisah-kisah dalam Bibel. Kathedral ini meliputi kompleks yang luas, termasuk taman favorit Pushkin menyendiri. Juga sebuah lapangan dengan patung Peter the Great di atas kuda, tempat berkumpulnya kaum Desembris. Tentang kaum Desembris akan saya ceritakan tersendiri.

 

1 Menurut literatur yang sempat saya baca, Saint Petersburg memang betul-betul sebuah kota baru yang dibuat dan direncanakan secara baik, bukan tumbuh berkembang dari sebuah desa. Kota ini didirikan di atas delta sungai Neva yang berawa. Pembangunannya dimulai tahun 1703 atas perintah Peter the Great, tsar Rusia masa itu setelah merebutnya dari Swedia dalam perang besar utara (the Great Northern War 1700 – 1721). Tsar menamainya sesuai dengan nama Santo Petrus. Tahun 1712 seluruh aparatus pemerintahan imperium Rusia pindah dari Moscow ke St. Petersburg yang selanjutnya selama dua abad menjadi ibu kota kekaisaran Rusia. Pada tahun 1918, setelah kemenangan Bolshevik menyusul revolusi 1917 ibu kota Rusia kembali ke Moscow. Tahun 1914, setelah pecah perang dunia I, penguasa setempat mengubah namanya menjadi Petrograd. Kemudian pada 1924, untuk menghormati pemimpin Soviet, Vladimir Ilich Lenin, kota tersebut dinamai Leningrad. Terakhir, pada bulan Juni 1991, 6 bulan sebelum USSR melenyap, namanya kembali menjadi St. Petersburg.

 

2 Lahir 1672 M dan menjadi imperator Russia sejak 1682 hingga wafat 1725.

 

3 Tsarina Catherine II sebelumnya adalah seorang putri Jerman bernama Sophie Fredericke Auguste von Anhalt-Zerbst (lahir 1729) yang dinikahi oleh Peter III. Catherina menjadi Tsarina (1762-1796) setelah mengkudeta suaminya dengan dukungan jendral-jendral Rusia. Sosok Catherina the Great sangat dihormati di Rusia. Dia meneruskan pembaruan Rusia yang dimuai oleh Peter the Great. Catherina bersahabat dan mendapat banyak nasihat dari Voltaire dan Diderot. Orang bilang, Peter the Great membangun Eropa di timur dan Catherina the Great meniupkan jiwanya.